Dok. K.H Ahmad Dahlan mendirikan sekolah SD pertama bernama Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah (MIDI)

Indonesia merupakan negara yang besar dengan beragam budaya, suku dan agama yang mewarnai indahnya negeri kita tercinta. Indonesia mulai diakui sebagai negara yang berdaulat pada 17 Agustus 1945. Tentu saja kemerdakaan indonesia tidak lepas dari Organisasi kemasyarakatan salah satunya yakni Muhammadiyah.

Persyarikatan Muhammadiyah lahir 33 tahun sebelum kemerdekaan, tepatnya pada 18 November 1912. maka tak heran jika Muhammadiyah ikut mengambil bagian dalam memperjuangkan kemerdekaan. Sejak awal berdirinya, kontribusi yang diberikan kepada bangsa memang sudah menjadi ikhtiar yang dilakukan Muhammadiyah untuk menyelesaikan persolan-persoalan yang dihadapi.

Sebagai bagian dari umat islam juga bangsa indonesia, sudah menjadi suatu kewajiban untuk membela dan mempertahankan kondusifitas bangsa, sehingga terwujudnya bangsa yang damai juga sejahtera. Gejolak dakwah amar ma’ruf nahi munkar yang ada didalam diri Muhammadiyah seolah terpanggil apabila ada permasalahan yang dihadapi oleh bangsa.

Jika kita kaitkan Muhammadiyah dengan bangsa Indonesia, pernahkah kita berfikir apa posisi yang diambil oleh Muhammadiyah di negara Indonesia?

Dalam hal ini Muhammadiyah berperan dalam mengontrol kekuasaan dengan melontarkan kritik yang bersifat konstruktif dan korektif. Serta menawarkan solusi untuk mengadapi permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh bangsa.

Perbedaan usia antara muhammadiyah dan negara kesatuan republik Indonesia bisa dikatakan cukup jauh, lantaran jarak usia mereka yakni 33 tahun. Muhammadiyah didirikan pada 18 November 1912 sedangkan Negara kesatuan republik Indonesia merdeka pada 17 agustus 1945 sesuai dengan Ir. Soekarno yang pada saat itu memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

Dengan perbedaan usia yang cukup jauh tidak membuat Muhammadiyah berperilaku seenaknya sendiri lantaran Muhammadiyah berusia 33 tahun lebih tua daripada NKRI. Hal ini justru menjadi kesempatan bagi Muhammadiyah untuk mengulurkan tangan sebagai wujud dari pengamalan dari tauhid sosial.

Hubungan Muhammadiyah sudah terjalin sangat baik dengan Negara kesatuan Republik Indonesia, baik itu saat pra-kemerdekaan maupun pasca kemerdekaan. Di era pra-kemerdekaan Muhammadiyah sudah memberikan sumbangsih yang cukup besar.

Sejak awal berdirinya Muhammadiyah selalu memiliki gaya dakwah yang adaptif, Muhammadiyah mampu menyesuaikan diri di zaman yang keadaanya sering berubah-ubah. Hal ini sangat terlihat pada saat Muhammadiyah membutuhkan izin resmi dari pemerintah colonial hindia-belanda supaya Muhamadiyah memiliki badan hukum resmi. Muhammadiyah memperoleh izin resmi tanpa ada kecurigaan besar dari colonial belanda, dalam hal ini Muhammadiyah berupaya menarik simpati dari para pejabat colonial dengan mengandalkan sikap kooperatifnya.

Meskipun sudah mendapatkan izin dan berhasil menarik simpati pejabat hindia-belanda, Muhammadiyah tidak melupakan aspek kekritisan yang dimiliki dalam merspon kebijakan-kebijakan yang dinilai merugikan.

Terbukti, Muhammadiyah telah membantu dalam menolak adanya kebijakan ordonasi guru yang dirancang oleh pejabat-pejabat hindia belanda pada tahun 1925. H. Abdul karim Amrullah dan K.H A.R Fachrudin menentang adanya kebijakan ini melalui tulisan yang telah mereka buat. Perlu diketahui bahwa ordonasi guru merupakan kebijakan yang disusun pejabat hindia-belanda dalam mengawasi guru agama yang tersebar di nusantara yang dinilai mengancam keberadaan mereka dan tanah nusantara yang sedang mereka jajah. Tak hanya merugikan guru, kebijakan ini tentu saja memberikan dampak negative kepada bangsa indonesia dan agama islam.

K.H Ahmad dahlan selaku pendiri Muhammadiyah juga terlibat dalam organisasi Budi Oetomo yang mana pada saat itu tujuan dari budi Oetomo adalam memajukan pengajaran, pertanian, peternakan, perdagangan, teknik dan industry, kebudayaan dan meninggikan cita-cita kemanusiaan untuk mencapai kehidupan bangsa yang terhormat.

Tujuan tersebut sangat cocok dengan pemikiran K.H Ahmad dahlan dalam mendakwahkan islam sekaligus memperjuangkan kebangkitan nasional. Di dalam organisasi Budi Oetomo juga K.H Ahmad dahlan mulai mempelajari bagaimana memanajemen organisasi yang lebih modern.

Dalam era kemerdekaan muhammadiyah juga turut menyumbangkan kader-kadernya dalam membela dan memperjuangkan kemerdekaan Negara kesatuan republic Indonesia. Muhammadiyah membentuk Askar perang sabil yang turut membantu pasukan militer dalam perang kemerdekaan. Selain itu salah satu kader Muhammadiyah yakni jenderal besar soedirman ditunjuk sebagai panglima dalam pertempuran Ambarawa. Jenderal soedirman merupakan pemuda yang merupakan kader Hizbul wathon yang dulu bediri dengan nama Padvinder Moehammadijah.

Pasca kemerdekaan hingga saat ini Muhammadiyah dan Indonesia selalu berjalan beriringan dalam memajukan generasi umat dan bangsa. banyak sekali gagasan dan keputusan muhammadiyah yang bertentangan dengan pemerintah namun hal ini tidak menjadi alasan untuk terpecah belah.

Salah satu kasus yang sering terjadi dalam negara yaitu adanya perbedaan penentuan bulan baru, ini biasanya terjadi ketika penentuan awal Ramadhan dan penentuan hari raya, demikianlah yang sering menjadi perbincangan.

Dalam suatu perayaan hari raya idul fitri tidak jarang muhammadiyah dan pemerintah memiliki perbedaan dalam menentukan tanggal. Sehingga muhammadiyah dan pemerintah terkesan tidak menjadi satu-kesatuan. Di negara indonesia perbedaan perayaan hari raya sudah menjadi hal yang lumrah, pasalnya tidak sekali dua kali hal ini terjadi, melainkan sudah seringkali kita jumpai, maka dari itu jangan sampai perbedaan ini menjadi alasan untuk menimbulkan kegaduhan bahkan menjadi perpecahan. 

Muhammadiyah dan indonesia sudah bersama-sama sejak dahulu, jika kia ibaratkan muhammadiyah dan indonesia layaknya sepasang sandal yang tidak bisa dipisahkan, sandal yang selalu bergerak menuju era yang penuh kemajuan dan kejayaan.

Perbedaan yang terjadi dalam penentuan hari raya bukanlah suatu masalah atau musibah, justru seharusnya perbedaan ini menjadi anugerah untuk seluruh bangsa indonesia untuk bisa saling menghormati dan menghargai, karena sejatinya negara indonesia juga terlahir dari perbedaan.

Muhammadiyah dan Negara kesatuan republic Indonesia sudah menjalin hubungan yang sangat baik, mereka bersama-sama membangun peradaban bangsa serta agama, kita bisa melihatnya dari bidang pendidikan yang sampai saat ini pendidikan Negeri dan pendidikan swasta milik muhammadiyah sama-sama berperan aktif dalam mencetak pemuda-pemuda generasi penerus bangsa.

Sebagai organisasi kemasyarakatan yang memiliki ribuan amal usaha diberbagai bidang, hubungan negara dan indonesia adalah saling membutuhkan. Muhammadiyah dan negara memiliki visi yang sama yakni mewujudkan masyarakat yang sejahtera, makmur dan berdaulat.

Tidak mungkin ada pertentangan antara muhammadiyah dan indonesia, sebagai organisasi yang bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa muhammadiyah tentunya membutuhkan negara, begitupula negara yang membutuhkan peran muhammadiyah. Sampai saat ini hubungan muhammadiyah dan negara bersifat sangat baik dan proporsional. Apabila apa yang dilakukan pemerintah baik dan benar maka muhammadiyah tidak akan ragu memberikan dukungan penuh. Akan tetapi apabila pemerintah melenceng dari konstitusi, undang-undang dan nilai agama, maka muhammadiyah tidak akan segan dalam mengoreksi.

Muhammadiyah dan negara harus selalu bersama-sama, memperkuat silaturahmi untuk mengatasi berbagai persoalan bangsa serta mendorong negara dan bangsa menjadi lebih baik dan lebih maju lagi.